Oleh: Linda F Saleh (Kabid Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkumham Sultra)
SULTRAKINI.COM: Di pagi hari awal Ramadan, kota masih gelap. Namun, di sebuah rumah sederhana di Anduonohu, dapur sudah lebih dulu menyala. Ramlah berdiri di depan kompor kecilnya sejak selesai sahur dan salat Subuh. Santan mendidih pelan, pisang-pisang tersusun rapi di atas nampan, dan di sampingnya tergeletak buku kecil berisi catatan pesanan yang ditulis dengan pulpen bertinta hampir habis.
Tahun ini, ada yang baru di sudut meja: gulungan stiker berisi nama usahanya yang baru saja ia cetak, “Pisjo Ramlah”.
“Supaya orang ingat,” katanya pelan.
Bagi Ramlah, Ramadan bukan sekadar perubahan jam makan. Ini adalah musim harapan. Ketika dapur yang biasanya hanya menyiapkan kebutuhan keluarga berubah menjadi ruang produksi kecil yang menghidupi rumah. Dari setiap kotak pisang ijo yang terjual, ada uang sekolah anak, ada belanja dapur yang tak perlu lagi ditunda, dan ada harapan membeli baju Lebaran. Tentu saja, ada pula rasa tenang yang tak bisa dinilai dengan angka.
UMKM Perempuan
Cerita seperti Ramlah hidup di banyak rumah di Sulawesi Tenggara. Data pemerintah daerah menunjukkan sekitar 93 ribu pelaku UMKM tersebar di 17 kabupaten dan kota. Lebih dari 48 ribu di antaranya merupakan industri mikro dan kecil yang tumbuh dari rumah tangga. Sebagian besar dijalankan oleh perempuan.
Mereka memulai usaha dari dapur, dari resep turun-temurun, dari keterampilan yang dipelajari sendiri, dan dari kebutuhan yang tak bisa menunggu.
Ramadan menjadi titik awal pergerakan itu. Di Kendari, Baubau, Konawe, Kolaka hingga Wakatobi, perempuan-perempuan mulai menyusun ulang ritme hidupnya. Setelah sahur dan Subuh, mereka menimbang bahan. Siang hari tetap mengurus rumah. Sore menjelang berbuka berubah menjadi waktu paling sibuk: mengemas pesanan, mengunggah foto produk, dan menjawab pesan pelanggan.
Di balik semua itu, ada satu harapan yang sama: semoga usaha ini tidak hanya hidup selama Ramadan.
Sebab yang sering terjadi, setelah bulan puasa berakhir, pesanan ikut menghilang. Produk yang kemarin laris kembali menjadi titipan di warung kecil. Bukan karena rasanya kalah, bukan karena pembelinya tidak suka, melainkan karena tidak ada yang membedakan satu produk dengan yang lain. Tidak ada nama yang diingat.
Di Baubau, seorang penjual kue tradisional mulai menabung untuk mencetak label kecil. Ia tak menyebutnya sebagai merek. Ia hanya ingin, ketika orang mencari kue buatannya, mereka tahu harus kembali ke siapa.
Padahal, dari situlah sebuah usaha menemukan jalan panjangnya.
Sebuah nama pada kemasan adalah identitas. Ia melindungi rasa, menjaga kepercayaan, dan membuat usaha kecil tidak hilang di tengah ramainya pasar. Ketika nama itu didaftarkan, ia bukan hanya menjadi tanda pengenal, tetapi juga menjadi kepastian bahwa jerih payah yang dimulai sejak sebelum matahari terbit tak mudah diambil orang lain.
Untuk usaha yang dikerjakan bersama, seperti kelompok perempuan pembuat kue, pengolah abon ikan, atau penenun, satu nama merek kolektif menjadi rumah bersama. Ia bukan sekadar simbol, melainkan cara agar mereka naik kelas tanpa harus berjalan sendiri-sendiri.
Di banyak tempat di Sulawesi Tenggara, langkah kecil ini mulai terlihat. Ada kelompok usaha yang mulai memakai satu merek bersama. Ada pendampingan dari Kanwil Kementerian Hukum dan pemerintah daerah yang membantu proses pendaftaran. Ada pula ruang-ruang pelatihan yang memperkenalkan bahwa produk rumahan pun memiliki nilai kekayaan intelektual.
Pendampingan itu sering terjadi tanpa sorotan. Dilakukan di aula kecil, di balai desa, atau melalui layanan yang datang langsung ke sentra UMKM. Tujuannya sederhana: agar usaha kecil tak hanya ramai saat Ramadan, tetapi tetap hidup di bulan-bulan berikutnya.
Di titik inilah Ramadan menemukan makna yang lebih dalam. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Bagi perempuan pelaku UMKM, hadis itu hadir dalam bentuk yang sangat nyata: tangan yang mengaduk adonan sejak Subuh, tangan yang membungkus pesanan menjelang berbuka, tangan yang menghitung hasil jualan dengan penuh syukur.
Ada pula sabda Nabi bahwa tidak ada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri. Hadis itu seolah hidup di dapur-dapur kecil selama Ramadan, tempat kerja menjadi ibadah, dan ibadah melahirkan kemandirian.
Ketika perempuan memiliki penghasilan sendiri, sekecil apa pun, ketenangan tumbuh di dalam rumah. Ketahanan ekonomi keluarga lahir dari situ. Dan ketika usaha itu memiliki identitas yang diakui, ketenangan itu berubah menjadi masa depan.
Kita sering melihat Ramadan sebagai puncak konsumsi. Padahal, pada saat yang sama, ia juga puncak produksi yang lahir dari rumah-rumah sederhana. Dari kompor dua tungku. Dari meja plastik yang dijadikan tempat mengemas pesanan. Dari ponsel dengan layar retak yang digunakan untuk memasarkan produk.
Dari sanalah ekonomi daerah sebenarnya bergerak.
Peran pemerintah daerah menjadi penting, bukan sekadar sebagai pembuat program, tetapi sebagai penghubung ekosistem: menghadirkan pelatihan, memfasilitasi pendaftaran merek, menguatkan kelompok usaha, dan membuka akses pasar.
Ketika semua itu berjalan, UMKM tak lagi berdiri sendiri. Mereka menjadi bagian dari gerak ekonomi yang lebih besar.
Dan mungkin, di situlah makna keberkahan awal Ramadan terasa paling nyata. Bahwa dari dapur-dapur kecil itu bukan hanya makanan yang disiapkan untuk berbuka, tetapi juga lahir karya, identitas, dan harapan yang dijaga bersama.
Yang membuat sebuah usaha bertahan bukan hanya ramainya pembeli di bulan puasa, melainkan keberanian memberi nama pada produk—seperti Ramlah yang suatu siang di Januari 2026 datang ke layanan Kekayaan Intelektual Kanwil Kementerian Hukum Sultra untuk mendaftarkan merek pisang ijonya.
Kini, setiap kotak yang ia jual tak lagi hanya berisi pisang ijo untuk berbuka puasa, tetapi juga sebuah identitas yang diakui dan dilindungi negara. Harapannya, orang kembali bukan hanya karena rasanya, tetapi karena namanya.
Selamat menunaikan ibadah puasa.***

1 month ago
58
















































