SULTRAKINI.COM: Guru Besar Komunikasi Pembangunan Universitas Halu Oleo, Prof. Dr. M. Najib Husain, menegaskan bahwa posisi strategis sumber daya alam (SDA) Sulawesi Tenggara (Sultra), khususnya sektor pertambangan nikel, sangat menentukan perputaran ekonomi nasional.
Namun, pengelolaan SDA tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat lokal, terutama akibat lemahnya strategi komunikasi digital dan pengelolaan pembangunan yang inklusif.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Najib dalam seminar Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Sultra yang digelar di Kampus Universitas Muhammadiyah Kendari, Selasa (7/4/2026). Ia membawakan materi bertema “Geostrategi dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dalam Transformasi Komunikasi Digital dalam Perspektif Komunikasi Pembangunan”.
Menurutnya, Sultra memiliki peran vital dalam industri nikel global. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan sekitar 50 persen total ekspor nikel nasional berasal dari wilayah ini. Kehadiran kawasan industri seperti Kawasan Industri Morosi dan Kawasan Industri Virtue Dragon Nickel Industry menjadi bukti konkret bahwa Sultra telah menjadi episentrum hilirisasi nikel di Indonesia.
Namun demikian, Prof. Najib mengingatkan bahwa besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Dengan SDA yang melimpah, seharusnya masyarakat lokal bisa lebih sejahtera. Tetapi hasil riset justru menunjukkan masih adanya ketimpangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan terdapat empat rasionalisasi utama yang menjadikan pengelolaan SDA semakin strategis. Pertama, arus globalisasi yang ditandai dengan pesatnya komunikasi digital dan kemudahan interaksi telah mendorong peningkatan perdagangan komoditas SDA secara global. Kedua, pertumbuhan penduduk dunia dan ekspansi ekonomi pasca pembangunan meningkatkan permintaan terhadap energi, pangan, pakan, serta bahan baku industri. Ketiga, faktor kemiskinan yang masih menjadi tantangan struktural di berbagai daerah penghasil SDA. Keempat, perubahan iklim yang berpotensi memperparah kerentanan wilayah, termasuk di Sultra.
Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena pergeseran mata pencaharian masyarakat. Di sejumlah wilayah pertambangan seperti Konawe dan Konawe Utara, banyak masyarakat yang sebelumnya berprofesi sebagai petani dan nelayan kini beralih menjadi pekerja tambang. Berdasarkan berbagai temuan lapangan dan laporan pemerintah daerah, sektor pertambangan menawarkan pendapatan yang lebih tinggi dalam jangka pendek, namun berisiko terhadap keberlanjutan ekonomi dan lingkungan.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia, dengan kontribusi signifikan berasal dari Sultra. Di sisi lain, laporan lembaga riset menunjukkan bahwa keterlibatan tenaga kerja lokal di sektor tambang masih didominasi pada level operator dan tenaga kasar, sementara posisi strategis masih banyak diisi tenaga kerja dari luar daerah maupun asing.
“Di sinilah pentingnya komunikasi pembangunan berbasis digital. Informasi harus dikelola secara transparan, partisipatif, dan mampu memberdayakan masyarakat lokal agar tidak hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri,” tegas Prof. Najib.
Ia juga menekankan bahwa transformasi komunikasi digital harus mampu menjembatani kepentingan antara pemerintah, industri, dan masyarakat. Tanpa strategi komunikasi yang tepat, potensi konflik sosial, ketimpangan ekonomi, hingga kerusakan lingkungan akan semakin besar.
Seminar tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra Prof. Dr. Aris Badara, perwakilan Kadin Sultra H. Rahman Rahim, serta anggota DPRD Kota Kendari M. Rajab Djiik. Kegiatan ini merupakan rangkaian Musyawarah ASPIKOM Sultra yang dibuka oleh Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Kendari, dengan keynote speaker Sekjen ASPIKOM Pusat Dr. Alem Febri Sonni.
Diskusi dalam seminar menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mengelola SDA secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat kapasitas SDM lokal melalui pendidikan, pelatihan, dan literasi digital agar mampu bersaing di era industri berbasis teknologi.
Penulis: Djufri Rachim
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan kombinasi pengolahan data manual dan bantuan kecerdasan buatan (AI).

6 hours ago
6
















































