SULTRAKINI.COM: Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Prof. Dr. Aris Badara, mengungkapkan bahwa pemanfaatan teknologi digital di sektor pendidikan Sultra masih belum optimal, khususnya di kalangan guru dan siswa. Hal ini terlihat dari rendahnya kompetensi digital dan kemampuan bahasa Inggris tenaga pendidik saat mengikuti seleksi program nasional seperti Sekolah Garuda. Pernyataan tersebut disampaikan dalam seminar Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Sultra yang digelar di Kampus Universitas Muhammadiyah Kendari, Selasa (7/4/2026).
Dalam forum ilmiah bertema “Transformasi Digital Pendidikan: Tantangan, Dampak bagi Peserta Didik, dan Strategi Adaptasi Masa Depan”, Prof. Aris menekankan bahwa kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor kunci dalam menghadapi era digitalisasi pendidikan. Ia mencontohkan, pada proses seleksi kepala sekolah, guru, hingga siswa untuk program Sekolah Garuda di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), sebagian besar peserta dari Sultra dinilai belum memenuhi standar kompetensi digital dan literasi bahasa asing.
Program Sekolah Garuda sendiri merupakan inisiatif strategis pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas pendidikan berbasis sains, teknologi, dan globalisasi. Sekolah ini dirancang sebagai pusat unggulan (center of excellence) untuk mencetak generasi berdaya saing internasional. Di Sulawesi Tenggara, salah satu lokasi pengembangan Sekolah Garuda berada di wilayah Konawe Selatan, yang saat ini masih dalam tahap penguatan SDM dan infrastruktur pendidikan.
Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa indeks literasi digital nasional masih berada pada kategori “sedang”, dengan skor sekitar 3,54 dari skala 5 pada tahun 2023. Kondisi ini mencerminkan masih adanya kesenjangan kompetensi digital, terutama di daerah-daerah, termasuk Sultra. Selain itu, hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) juga menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca dan numerasi siswa Indonesia masih perlu ditingkatkan untuk bersaing di tingkat global.
Selain persoalan kompetensi digital, Disdikbud Sultra juga menyoroti maraknya kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Prof. Aris menyatakan pihaknya akan menggandeng ASPIKOM untuk melakukan edukasi dan kampanye komunikasi publik guna menekan angka bullying di kalangan pelajar. Ia mengakui masih ditemukan sejumlah kasus di berbagai sekolah di Sultra yang memerlukan penanganan serius dan sistematis.
“Fenomena bullying ini tidak hanya berdampak pada psikologis siswa, tetapi juga diperparah oleh penyebaran informasi yang tidak sesuai fakta di media sosial,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran media massa dalam menjaga kualitas informasi di era digital. Menurutnya, transformasi teknologi telah mengubah lanskap jurnalistik, sehingga media perlu kembali menegakkan prinsip akurasi, verifikasi, dan keberimbangan dalam pemberitaan.
Dalam seminar tersebut turut hadir sejumlah narasumber, di antaranya Guru Besar Komunikasi Pembangunan Prof. Dr. M. Najib Husain, Kadin Sultra diwakili H. Rahman Rahim, serta anggota DPRD Kota Kendari M. Rajab Djiik. Diskusi berlangsung dinamis dengan menyoroti berbagai tantangan pendidikan di era digital.
Lebih lanjut, Prof. Aris juga menyoroti bahwa sarana dan prasarana pendidikan tingkat SMA/SMK di Sultra sebenarnya sudah cukup memadai, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini kembali berkaitan dengan keterbatasan kapasitas SDM dalam mengoperasikan dan mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran.
Pemerintah daerah, kata dia, akan terus mendorong peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan digital, penguatan literasi teknologi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan organisasi profesi.
Dengan berbagai tantangan tersebut, transformasi digital pendidikan di Sultra diharapkan tidak hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga peningkatan kualitas SDM agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kebutuhan global.
Penulis: Djufri Rachim
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan kombinasi pengolahan data manual dan bantuan kecerdasan buatan (AI).

7 hours ago
4
















































